31/07/12

The Dreamer a short documentary film






The Dreamer"
a short documentary film of Uji Hahan Handoko on his comission work for Bazaar Art Pacific Place Jakarta 2012.

The Dreamer atau Pemimpi adalah sebuah projek film dokumenter singkat yang bercerita tentang bagaimana proses seorang seniman menciptakan sebuah karya seni yang akan dihadirkan kepada khalayak atau publik. Ide cerita ini berawal dari sebuah quotes dari seorang seniman asal belanda bernama Marc Philip Van Kempen yang berkata " Selama ini karya seni itu hanya berakhir pada pendokumentasian karya" Karya seni hanya bersifat temporer saat dipamerkan, setelah itu kita hanya akan melihatnya di katalog, reviews, web dll. kecuali kalau kita orang kaya yang bisa dengan mudahnya membeli karya tersebut. bahkan kehadiran galeri nasionl atau museum seni di Indonesia juga belum bisa kita harapkan.

sinopsis

Uji Handoko aka Hahan adalah seorang seniman muda nan eksentrik yang biasa tinggal dan bekerja di Yogyakarta, pada tahun 2012 ini ia mendapat kesempatan untuk terpilih sebagai comission work artist pada acara Bazaar Art 2012 d Pacific Place Mall Jakarta. untuk mengisi ruang yang sangat besar yang disuguhkan Pacific Place kepada Hahan, ia memutuskan untuk membuat eksperimental artwork dari balon dengan ukuran raksasa. Akan tetapi balon yang ada disini bukan balon buatan pabrik yang dapat mengembang dengan helium, balon ini dibuat dengan tangan melalui proses pola, potong, lem jahit yang disatukan dan ditiup dengan blower. konsep hahan bermula dari bagaimana dia meliha Pacific Place sebagai sebuah mall yang sangat High di ibu Kota indonesia, dia sebagai seorang seniman dari yogyakarta hanya bisa melihat dan membayangkan citra-citra sempurna yang ada di Pacific place, seperti image Tas wanita, sepatu hak tinggi, diamond dll. bayangan hahan tersebut membuat ia hanya bisa bermipi dan membayangkan akan citra-citra sempurna tersebut. apakah mimpi itu  bisa menjadi kenyataan atau hanya akan  menjadi PR di siang bolong? kita takkan pernah tahu. semua itu hanya akan mengambang seperti balon.

SF Films YK present
a film by Zulhiczar Arie
co filmed and edited by Sofyan Hidayat

starring
Uji Hahan Handoko as the artist
Badari Moustaq as the artisant
kawus Krew ast the builder team

Bazaar Art Jakarta
Indonesian Art fair
July 26th-august 12 2012
Metro lobby
Pacific Place Jakarta

english

"as long as I know an artwork will only stop or end on the process of documentation"
-MPVK-

Started at the end of 2010, I decided to make a documentary film which focused on youth culture theme, especially on skateboarding and contemporary art scenes in Yogyakarta Indonesia.

My big idea on this project was started from a statement said "as long as I know an artwork will only stop or end on the process of documentation" that was from Marc Philip Van Kempen quotes, he was an artist from Holland who did residency program at Cemeti Art House Yogyakarta.

You could not look the process of how an artist make the artwork from the beginning until they show the artwork on the exhibition, the exhibition was not an everlasting show, that was just temporary show. After that you could not see the artwork at all, you only see the documentation at the catalog, blog reviews, news, website, etc. besides if you are a rich person, you could buy the artwork and collect them just for your self.

So from that idea, i decided to make a documentary film about one of young and talented artist from Yogyakarta named "Uji Handoko Eko Saputro". Hahan, as Uji Handoko is known, is one of the emerging “celebrated” artists of his generation. He graduated from the graphic arts department of the Indonesian Institute of the Arts (ISI), Yogyakarta, Hahan has made a name for himself not only as a visual artist, but also as a singer in a few bands, thus raising his profile. He is also known for his amusing expressions and distinctive fashion style, all apparently much inspired by Andy Warhol.

On this project Hahan makes an experimental commission artwork for one of the Biggest Art Fair in Indonesia. The art fair held on a very luxurious mall in Jakarta called Pacific Place. He makes an extraordinary hand-made balloon to fill the big space on the art fair.

The Dreamer means that Hahan as the artist take position as an ordinary people who look at the Pacific place as the very luxurious mall which many big branded thing sell there, like Loius Vitton brand, Hugo Boss, Cavali, Canali, Zara, etc. Hahan only could dream and hopes he could reach all the perfectly images which sell at that Mall, like diamond, jewelry, shiny shoes, bags, etc.

I started this project at the early of June, which started from discussion with the main subject 'Hahan', and started to take footage of the process at the middle of June at Yogyakarta. Now at the last of July the artworks were already installed at the art fair, but from the beginning until now we have got so many problems.

On this film will shows how was the process of an artist make an extraordinary artwork for the public space on a mall, how was the making process, the idea, the technique, the problem and also the fun time how was the artwork and the film was made until the  production process end.


16/07/12

AFFAIRS Goes to The Beach 2012

It's a short compilation of our video documentation when we had free time with our boys. M. Krista is one of our team while he also do some activities like skateboarding and surfing. Pacitan is one of our forever destination for spending free time. Meet the natives, Momon Dora, man behind Pacitan Surf Club and Hidden Point Surf Competition (now he is developing his own brand, Desature), also Supri, one of young and talented local surfer.

Here we go.

shot n edited by Zulhiczar Arie
additional footage by Momon Dora

taken with
Canon DSLR 550D
Hero Go Pro
iPhone 3Gs

Songs by
fleet foxes - white winter comunal
foster the people - pumped up kids

Thanks to
Affairs YK
Mas Mario dan Mbak Ayu
Mas Momon dan Mbak Dewi
Supri
Pacitan Surfing
M Krista
Affais team

23/05/12

Pirates Got Pirated




bajakan itu dilegalkan saja,
ini cara orang menghargai karya cipta di Indonesia
yang sudah sangat hancur.

-Armand Maulana-

Jujur saja, setiap orang di antara kita pasti sudah pernah menonton film bajakan.  Begitu mudahnya  akses untuk menonton film bajakan membuat hal tersebut menjadi bukan sesuatu yang tabu lagi untuk dinikmati di kalangan masyarakat kita. Penghargaan sebuah karya seni dalam hal ini khususnya  film saya kira terletak di posisi paling bawah beriringan dengan karya seni musik atau lagu, karena berbeda dengan karya seni yang lain seperti lukisan, patung, grafis, desain, dll yang menurut saya masih jarang untuk dibajak seperti halnya karya seni film dan musik. Jaman sekarang sangat mudah untuk mendapatkan film-film bajakan itu beredar luas diantara kita. Melalui situs-situs dan blog di internet, penjual keping DVD bajakan di Jl Mataram Jogja atau di Mangga Dua Jakarta kita bisa meng-update film-film bajakan itu dan menontonnya dirumah.
Studi kasus yang saya alami saat menonton film bajakan tersebut, biasanya kualitas dari film bajakan tersebut sangatlah buruk, warna dan kualitas gambarnya pecah, suaranya mono, hal ini karena biasanya diambil dari handycam sang pembajak di bioskop. Kemudian kadang gambarnya goyang, dan tiba-tiba bisa muncul bayangan seseorang yang lewat di depan gambar. hal-hal tersebut memang sudah lazim kita temui di film-film bajakan kita. Ditambah lagi biasanya dalam film bajakan, subtitle yang ada tidak pas, bahasanya ngawur terjemahan bebas dan jeda antara subtitlenya sangat tidak enak di pandang.
Nah, cerita diatas melatarbelakangi saya untuk membuat karya video art yang berjudul “Pirates Got Pirated” atau “Pembajak kena Bajak”. Saya tampilkan cuplikan dari film “Pirates of The Carribean” yang saya edit atau lebih tepatnya saya bajak tetapi menggunakan software editing sehingga membentuk ciri-ciri visual sebuah film bajakan. Saya tampilkan gambaran saat film tersebut dibajak melalui handycam, ada bayangan orang lewat didepan layar, gambar yang buruk dan suara yang pecah, terdengar suara orang sedang makan kripik , suara handphone, lalu subtitle yang tidak pas menggunakan bahasa jawa dan bahkan gambar muda-mudi sedang ciuman di bioskop cerminan kehidupan anak muda jaman sekarang. Melalui karya ini semoga bisa menjadi sebuah refleksi kita akan kenyataan pembajakan film di Indonesia yang kemudian dapat menyadarkan kita untuk tidak membeli dan menonton film bajakan. 
Video Art ini juga ikut serta di TK Fest Exhibition di UPT Galeri ISI Yogyakarta tangal 13-19 Mei 2012 lalu.